Jumat, 14 Oktober 2011

laporan dasar-dasar ilmu tanah UIR


  1. PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang

Ilmu tanah di Indonesia Pertama diajarkan di Fakultas Pertanian Universitas Indonesia (merupakan kelanjutan dari Landbouw Hogeschool yang didirikan 1940,
Tanah adalah lapisan yang menyeliputi bumi antara litosfer (batuan yang membentuk kerak bumi) dan atmosfer. Tanah menjadi tempat tumbuh-tumbuhan dan mendukung kehidupan hewan dan manusia
Ilmu tanah adalah pengkajian terhadap tanah sebagai sumber daya alam. Dalam ilmu ini dipelajari berbagai aspek tentang tanah, seperti pembentukan, klasifikasi, pemetaan, berbagai karakteristik fisik, kimiawi, biologis, kesuburannya, sekaligus mengenai pemanfaatan dan pengelolaannya.
Ilmu tanah dibagi menjadi dua cabang utama: pedologi dan edafologi. Pedologi mempelajari tanah sebagai objek geologi. Edafologi, atau ilmu kesuburan tanah, mempelajari tanah sebagai benda pendukung kehidupan. Keduanya menggunakan alat-alat dan sering kali juga metodologi yang sama dalam mempelajari tanah, sehingga muncul pula disiplin ilmu seperti fisika tanah, kimia tanah, biologi tanah (atau ekologi tanah), serta ilmu konservasi tanah. Karena tanah juga memiliki aspek ketataruangan dan sipil, berkembang pula disiplin seperti mekanika tanah, pemetaan (kartografi), geodesi dan survai tanah, serta pedometrika atau pedostatistika. Penggunaan informatika juga melahirkan beberapa ilmu campuran seperti geomatika

untuk pertanian, tanaman sangat bagus ditanam pada tanah jenis aluvial untuk menentukan daerah yang berkarakteristik tanah aluvial adalah 0-5 Km dari sungai besar
(S Kahayan ) biasanya terdiri dari jenis tanah aluvial serta 0-2 Km dari pinggiran saluran primer/irigasi yang dibuat juga dengan karakteristik tanah jenis aluvial atau cocok untuk ditanam padi.





B.  Tujuan

  • untuk mengetahui pH tanah pada tanah aluvial
  • agar mahasiswa mengetahui sifat-sifat  tanah
  • untuk mengetahui unsur-unsur yang terdapat pada tanah alluvial tersebut.


C.  Waktu dan temat

Pelaksanaan praktikum Dasar – Dasar Ilmu Tanah ini dimulai yaitu pada hari Rabu 01 Desember 2010 dan 15 Desember 2010 hanya dua kali pertemuan. Adapun kegiatan yang dilakukan adalah  Analisis kimia tanah, Analisis Al dd dan H dd, Analisis N-total, Analisis C-organik, Penetapan kadar air, dan Analisis Fosfor tersedia. Praktikum ini dilakukan di labor Bioteknologi di Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau.














                                                                                                                               II.                              BAHAN METODE

A.    ANALISIS KIMIA TANAH

1.      Penerapan pH tanah (penetapan pH H2O dan KCL )

a.      Pembuatan Reagen

Bahan – bahan
1.      Air suling
2.      Larutan 1 N KCL (74,5 g KCL dalam 1 L aquades)
Alat – alat
1.      pH meter
2.      Tabung reaksi 50 ml
3.      Mesin kocok

b.      Prosedur Kerja

  • Masukkan 10 gram tanah ketabung reaksi dan tambahkan 10 ml Air suling ( pH H2O 1:1 )
  • Kocok 30 menit dengan mesin pengocok, kemudian diamkan sebentar atau paling lama 1 jam.
  • Ukur dengan pH meter
Untuk pH KCL  sama halnya dengan pH H2O, 10 ml air suling diganti dengan 10 ml KCL 1 N.






B.     ANALISIS Al dd dan H dd

2.      Penetapan Al dan H dapat ditukarkan (Al dd dan H dd )

a.      Pembuatan Reagen

1.      Laruatan 1 N KCL dalam 1 L aquades )
2.      NaOH 0,1 N
3.      HCL 0,1 N
4.      NaF 4% ( 4 gram NaF larutan kedalam 100 mL aquades)

b.      Prosedur Kerja

  • Masukkan 10 gram tanah kedalam erlemeyer 250 ml
  • Tambah 100 ml 1 N KCL, tutup erlemeyer dan kocok selama 15 menit.
  • Kemudia diendapkan beberapa saat
  • Pipet hasil diendapkan 25 ml masukkan kedalam erlemeyer dan tambah 5 tetes indikator pp sambil dikocok.
  • Titer dengan 0,1 N NaOH sampai timbul merah muda, catat jumlah NaOH yang terpakai
  • Tambahkan 0,1 ml HCL 0,1 N sehingga warna merah muda hilang
  • Tambahkan 10 ml NaF 4% warna merah akan timbul kembali bila tanah tersebut mengandung Al.
  • Titer dengan HCL 0,1 N sampai warna merah hilang kembali (  catat jumlah HCL yang terpai)

Perhitungan:
Me H-dd/100 gram = ( mL NaOH x N NaOH) – ( mL HCL x N HCL )x 40
Me Al-dd/100 gram = mL HCL xN HCL x40
Konstanta 40 berasal dari = ( 100 mL/25 mL )x (100 gram / 10 gram

C.    ANALISIS C-Organik

3.      Penetapan C – organic

Karbon sebagai senyawa organic akan mereduksi Cr6+ menjadi Cr 3+ dalam suasana asam, intensitas warna yang terbentuk setara dengan kadar Carbon dan dapat diukur dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 645 nm.

a.      Pembuatan Reagen

1.      larutan 1 N K2Cr2O7 ( 49,04 gram K2Cr2O7 dilarutkan dengan 1 L aquades )
2.      asam sulfat pekat (96%)
3.      larutan 0,5% BaCl2 ( 5 gram BaCl dilarutkan dengan 1 L aquades )
4.      sukrosa baku

b.      Prasedur reagen

  • Timbang 29,68 gram sukrosa yang kering tanur, larutkan dengan air suling dalam labu ukur 250 mL.
  • Pipet berturu-turut 5, 10, 15, 20 dan 25 ml larutan diatas, masukkan kedalam 5 buah labu ukur 100 mL. encerkan hingga 100 ml dengan air suling.
  • Pipet masing-masing larutan sebanyak 2 mL masukkan kedalam 5 buah erlemeyer,erlemeyer ini berturut-turut mengandung 5, 10, 15, 20, dan 25 mg C.
  • Timbang 0,2 gram tanah  (bahan organic sedang) atau 0,1 gram (bahan organic tinggi)
  • Timbang 10 ml larutan 1 N K2Cr2O7 dan 20 ml asam sulfat pekat, goncang hingga tercampur kemudian diamkan selama 30 menit.
  • Setelah 30 menit tambahkan 100 ml larutan 0,5 % BaCl2 sehingga sulfat mengendap menjadi BaSO4.
  • Diamkan satu malam hingga jernih.
  • Lakukan juga untuk larutan standar dan blanko sepeti pekrjaan diatas.
  • Setelah jernih pindahkan larutan kedalam tabung reaksi, kemudian baru masukkan kedalam kuvet dan ukur absobsi pada panjang gelombang 645 nm.
  • Catat absobsi sampel dan standar, untuk larutan standar  dibuatkan kurva kalibrasinya.

Perhitungan :
% C = ( mg C kurva / mg contoh ) x 100%
Persentase bahan organik = 1,72 x C-organik


D.    PENETAPAN KADAR AIR

4.      Penetapan kadar air

a.      Prosedur Kerja

  • Keringkan selama 30 menit cawan pengering kedalam oven pada suhu 105°C
  • Setelah 30 menit, masukkan kedalam desikator selama 45 menit dan timbang
  • Timbang 5 gram tanah dicawan pengering
  • Masukkan kedalam oven pada suhu 105 °C selam 3 menit, pindahkan kedalam desikator.
  • Setelah 45 menit lalu ditimbang.


Perhitungan:
% Kadar air tanah  = ( berat tanah basah – berat tanah kering )/ berat kering tanah x 100%






E.     ANALISIS N-TOTAL

5.      Penetapan Nitrogen total tanah

Senyawa nitrogen organik dapat dioksidasi dalam lingkungan asam sulfat pekat membentuk (NH4)2SO4. amonium sulfat yang terbentuk disuling dengan penambahan NaOH. Selanjutnya NH3 yang dibebaskan diikat oleh asam borak dan dapat dititer dengan H2SO4 dengan menggunakan indikator Conway.

a.      Pembuat Reagen

  1. Asam sulfat pekat
  2. Katalis campuran (campuran selen)
Dicampurkan 1,55 gram CuSO4 anhidrat,96,9 gram Na2SO4 anhidrat, dan 1,55 gram selen bubuk kemudian digerus.
  1. Asam borat 2%
Dilarutkan 5 gram H3BO3 dengan 0.5 liter aquades
  1. NaOH 40%
400 gram NaOH dilarutkan kedalam 1 L aquades
  1. Indikator campuran (petunjuk Conway)
Dilarutkan 0,1 grammerah metal ( methylred) dan 0,150 gran hijau bromkresol (bromecrosol green) kedalam 100 mL ethanol absolute.
  1. Larutan baku asam sulfat 0.05 N







b.      Prosedur Kerja

·         Ditimbang 0,5 gram sampel tanah yang telah digerus, dimasukkan kedalam tabung digest.
·         Distribusi 0,5 gram katalis campuran dan tambahkan 3 mL asam sulfat pekat.
·         Didestruksi hingga 3-4 jam pada suhu 200 °C,setelah sempuran  (keluar asap putih) didinginkan lalu diencerkan dengan 25 mL aquades.
·         Hasil dektruksi pindahkan kedalam labu didih, jadikan 100 mL larutan
·         Ditambah 30 mL NaOH 40%, lalu didestilasi.
·         Untuk menampung destilat disiapkan erlemeyer 100 mL yang berisi 10 mL H3BO3 1% dan ditambah 3 tetes indicator campuran.
·         Destilasi dilakukan sampai warna penampung menjadi hijau dan diperoleh destilat sekitar  50-75 mL.
·         Destilat dititer dengan H2SO4 0,05

Perhitungan : % N = (T2 – T1 x N x 0.014 x100)
                                                Gram sampel

Diman :           T1 = mL H2SO4 yang terpakai untuk titrasi blanko
                        T2 = mL H2SO4 yang terpakai untuk titrasi sampel
                        N  = Normalitas H2SO4

  1. Rasio C/N

Rasio C/N dihitung secara matematis
Rasio C/N = % N-total





F.     ANALISIS FOSFOR TERSEDIA

6.      Analisis fosfor tersedia (metoda Olsen)

Fosfor dalam suasana netral / alkalin dalam tanah akan terikat sebagai Ca,Mg-PO4. pengekstrak NaHCO3 akan mengendapkan Ca,Mg-CO3 sehingga PO4 3- dibebaskan kedalam larutan. Pengekstrak ini juga dapat digunakan untuk tanah asam terikat sebagai Fe. Al-hidroksida, sebagai fosfat dibebaskan.

a.       Pembuatan reagen
                                                      
1.      pengekstrak NaHCO3 0,5 N, pH 8,5
dilarutkan 42,0 gram NaHCO3 dengan aquades encerkan menjadi 1 L, pH larutan ditetapkan menjadi 8,5 dengan penambahan NaOH.
2.      Pereaksi pekat
Dilarutkan 12 gram ammonium molybdate, (NH4)6Mo7O24. 4H2O dengan 100 mL aquades, ditambahkan 0.227 gram K(SbO)C4H4O6. dan secara perlahan tambahkan 140 mL H2SO4 pekat, jadikan 1 L.
3.      pereaksi warna P
campuran 1,06 gram asam absorbat dan 100 mL pereaksi P pekat kemudian jadikan 1L (tambahkan 25 mL H2SO4 N sebelum diencerkan)
4.      Larutan induk P 500 ppm
Dilarutkan 2,1954 gram KH2PO4 (keringkan pada suhu 40 °C) dengan aquades, encerkan menjadi 1L
5.      Larutan standar (0,5; 1,0; 2,0; 4,0; 8,0)






b.      Prosedur kerja

Ditimbang 1,0 gram sampel tanah masukkan kedalam Erlenmeyer, ditambah 20 mL pengekstrak olsen kemudian dikocok selama 30 menit. Disaring dengan kertas whatman 42 dan bila larutan keruh kembali. Ekstrak dipipet 2 mL kedalam tabung reaksi dan selanjutnya bersama deren standar ditambah 10 mL pereaksi pewarna  P kocok hingga homogen dan biarkan selama 30 menit. Absobsi larutan diukur dengan Spektrofotometer pada panjang gelombang 693 nm.

Perhitungan : konsentrasi fosfor dihitung dengan menggunakan regresi liner dari larutan standar.

Kadar P tersedia (ppm) = ( konsentrasi terukur x mL ekstrak )/ g contoh. 

Prosedur kerja:

1.      Pipet sampel yang diekstrak sebanyak 10 ml,masukkan kedalam labu ukur 50 ml
2.      Tambah 10 ml reagen pereaksi pewarna fosfor
3.      Enceran sampai tanda batas, lalu di aduk.
4.      Diamkan selama 10 menit, setelah 10 menit ujur absobsinya pada panjang gelombang 660 miro meter.
5.      Untuk larutan standar sama pekerjaan dari M­­o 1-4.









  1. HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil dari praktikum dasar-dasar ilmu tanah adalah sebagai berikut:

1.      Analisis kimia tanah
pH tanah Aluvial adalah 5,23
2.      Analisis Al dd dan H dd

H dd / 100 gram    = ( mL NaOH x N NaOH) – ( kandungan Al x N HCL) x 40
                              = ( 1,9 x 0,1 ) x 40
                              = 7,6
Konstanta 40 berasal dari = (50 mL / 25 mL) x (100 gram / 5 gram)
                                          = 2 mL x 20 gram
                                          = 40
7,6 x 2,1 = 15,96
      Jadi, tanah Aluvial yang mempunyai kandungan pH 5,23 dibutuhkan pengapuran sebanyak 15,96 ton/Ha.

3.      Analisis N-total

N   = T2 – T1 x N x 0,014 x 100
                  Gram sampel
N   = ( 6,4 – 3 ) x 0,05 x 0,014 x 100
                              0,5551
N   = 0,428
                                    Jadi, kandungan N pada tanah Aluvial adalah 0,428

4.      Analisis C-organik

B = 0,008
A = 0,0014
Spektro = 0,402 Abs
Sampel tanah = 203 Mg

                        % C     = (Mg C kurva / Mg contoh ) x 100 %
                                    = 50,08 / 203 x 100
                                    = 24,67 %                   
                       
                        % Bahan organic         = 1,72 x 24,67
                                                            = 42,43 %
            Konstanta (Mg C )      = ( Abs Y – A / B )
                                                = ( 0,402 – 0,0014 / 0,008 )
                                                = 0,227
Jadi, analisis C-organik adalah  0,227
           
5.      Penetapan kadar air

Berat basah tanah + berat breaker kering  = 5,0734 + 94,4308
                                                                  = 99,5042

= 99,5042 – berat kering terakhir
= 99,5042 – 97,9307
= 1,5735

      Kandungan air tanah   = Berat basah tanah – Berat kering tanah
Berat kering tanah
                                                =  99,5042 – 3,4999
3,4999
                                                = 27,43 %


6.      Analisis Fosfor tersedia

Ppm                       = 2,19
Berat tanah            = 1,0081 gram
Ekstrak olsen                     = 20 mL
X ppm                   = Abs Y – A / B = 2,19
A                           = 0,002
B                           = 0,013

                  Abs Y              = 0,026 – 0,02
                                                      0,013
                                          = 0,026 – 1,53
                                          = 1,512
Mg / Kg     = 2,19 x ekstrak olsen (20)     
                  Kandungan fosfor berat tanah
                  = 2,19 x 20
                              1,008
                        = 43,46


7.      Menentukan 0,1 N HCL untuk membuat larutan stok 500 mL. (0,5 L) BE HCL = H = 1x1, Cl = 1x 35,46 = 35,46.
Jumlah massa atom
BE             = 1 x 35,46      = 35,46
Il                = 1,17

% H2SO4              = 37 %

0,1 N                     =        V x N BE
                                 10 x (massa jenis ) x %

0,1 N                     = 0,5 x 0,1 x 35,46                             
                                  10 x 1,17 x37
0,1 N                     = 1,823 / 432,9
                              = 0,00421

Diubah ke mL       = 0,00421 x 1000 mL = 4,2 mL HCL + Aquades
                                          495,8               = 500 mL

8.      Menentukan 4 % NAF
NAF 4 %   = 4 / 100 x 100 mL Aquades
                  = 4





















  1. DAFTAR PUSTAKA




Mohr, E.C.J., 1933. De Bodem der Tropen in het Algemeen, en die van Nederlandsch-Indie in het Bijzonder. (Tanah-tanah di Daerah Tropis, dengan rujukan khusus di Hindia Belanda)
Mohr, E.J.C., van Baren, F.A. and van Schuylenborgh, J., 1972. Tropical soils: a comprehensive study of their genesis. 3rd edition. Mouton – Ichtiar Baru – van Hoeve, Den Haag













  1. PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang

Ilmu tanah di Indonesia Pertama diajarkan di Fakultas Pertanian Universitas Indonesia (merupakan kelanjutan dari Landbouw Hogeschool yang didirikan 1940,
Tanah adalah lapisan yang menyeliputi bumi antara litosfer (batuan yang membentuk kerak bumi) dan atmosfer. Tanah menjadi tempat tumbuh-tumbuhan dan mendukung kehidupan hewan dan manusia
Ilmu tanah adalah pengkajian terhadap tanah sebagai sumber daya alam. Dalam ilmu ini dipelajari berbagai aspek tentang tanah, seperti pembentukan, klasifikasi, pemetaan, berbagai karakteristik fisik, kimiawi, biologis, kesuburannya, sekaligus mengenai pemanfaatan dan pengelolaannya.
Ilmu tanah dibagi menjadi dua cabang utama: pedologi dan edafologi. Pedologi mempelajari tanah sebagai objek geologi. Edafologi, atau ilmu kesuburan tanah, mempelajari tanah sebagai benda pendukung kehidupan. Keduanya menggunakan alat-alat dan sering kali juga metodologi yang sama dalam mempelajari tanah, sehingga muncul pula disiplin ilmu seperti fisika tanah, kimia tanah, biologi tanah (atau ekologi tanah), serta ilmu konservasi tanah. Karena tanah juga memiliki aspek ketataruangan dan sipil, berkembang pula disiplin seperti mekanika tanah, pemetaan (kartografi), geodesi dan survai tanah, serta pedometrika atau pedostatistika. Penggunaan informatika juga melahirkan beberapa ilmu campuran seperti geomatika

untuk pertanian, tanaman sangat bagus ditanam pada tanah jenis aluvial untuk menentukan daerah yang berkarakteristik tanah aluvial adalah 0-5 Km dari sungai besar
(S Kahayan ) biasanya terdiri dari jenis tanah aluvial serta 0-2 Km dari pinggiran saluran primer/irigasi yang dibuat juga dengan karakteristik tanah jenis aluvial atau cocok untuk ditanam padi.





B.  Tujuan

  • untuk mengetahui pH tanah pada tanah aluvial
  • agar mahasiswa mengetahui sifat-sifat  tanah
  • untuk mengetahui unsur-unsur yang terdapat pada tanah alluvial tersebut.


C.  Waktu dan temat

Pelaksanaan praktikum Dasar – Dasar Ilmu Tanah ini dimulai yaitu pada hari Rabu 01 Desember 2010 dan 15 Desember 2010 hanya dua kali pertemuan. Adapun kegiatan yang dilakukan adalah  Analisis kimia tanah, Analisis Al dd dan H dd, Analisis N-total, Analisis C-organik, Penetapan kadar air, dan Analisis Fosfor tersedia. Praktikum ini dilakukan di labor Bioteknologi di Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau.














                                                                                                                               II.                              BAHAN METODE

A.    ANALISIS KIMIA TANAH

1.      Penerapan pH tanah (penetapan pH H2O dan KCL )

a.      Pembuatan Reagen

Bahan – bahan
1.      Air suling
2.      Larutan 1 N KCL (74,5 g KCL dalam 1 L aquades)
Alat – alat
1.      pH meter
2.      Tabung reaksi 50 ml
3.      Mesin kocok

b.      Prosedur Kerja

  • Masukkan 10 gram tanah ketabung reaksi dan tambahkan 10 ml Air suling ( pH H2O 1:1 )
  • Kocok 30 menit dengan mesin pengocok, kemudian diamkan sebentar atau paling lama 1 jam.
  • Ukur dengan pH meter
Untuk pH KCL  sama halnya dengan pH H2O, 10 ml air suling diganti dengan 10 ml KCL 1 N.






B.     ANALISIS Al dd dan H dd

2.      Penetapan Al dan H dapat ditukarkan (Al dd dan H dd )

a.      Pembuatan Reagen

1.      Laruatan 1 N KCL dalam 1 L aquades )
2.      NaOH 0,1 N
3.      HCL 0,1 N
4.      NaF 4% ( 4 gram NaF larutan kedalam 100 mL aquades)

b.      Prosedur Kerja

  • Masukkan 10 gram tanah kedalam erlemeyer 250 ml
  • Tambah 100 ml 1 N KCL, tutup erlemeyer dan kocok selama 15 menit.
  • Kemudia diendapkan beberapa saat
  • Pipet hasil diendapkan 25 ml masukkan kedalam erlemeyer dan tambah 5 tetes indikator pp sambil dikocok.
  • Titer dengan 0,1 N NaOH sampai timbul merah muda, catat jumlah NaOH yang terpakai
  • Tambahkan 0,1 ml HCL 0,1 N sehingga warna merah muda hilang
  • Tambahkan 10 ml NaF 4% warna merah akan timbul kembali bila tanah tersebut mengandung Al.
  • Titer dengan HCL 0,1 N sampai warna merah hilang kembali (  catat jumlah HCL yang terpai)

Perhitungan:
Me H-dd/100 gram = ( mL NaOH x N NaOH) – ( mL HCL x N HCL )x 40
Me Al-dd/100 gram = mL HCL xN HCL x40
Konstanta 40 berasal dari = ( 100 mL/25 mL )x (100 gram / 10 gram

C.    ANALISIS C-Organik

3.      Penetapan C – organic

Karbon sebagai senyawa organic akan mereduksi Cr6+ menjadi Cr 3+ dalam suasana asam, intensitas warna yang terbentuk setara dengan kadar Carbon dan dapat diukur dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 645 nm.

a.      Pembuatan Reagen

1.      larutan 1 N K2Cr2O7 ( 49,04 gram K2Cr2O7 dilarutkan dengan 1 L aquades )
2.      asam sulfat pekat (96%)
3.      larutan 0,5% BaCl2 ( 5 gram BaCl dilarutkan dengan 1 L aquades )
4.      sukrosa baku

b.      Prasedur reagen

  • Timbang 29,68 gram sukrosa yang kering tanur, larutkan dengan air suling dalam labu ukur 250 mL.
  • Pipet berturu-turut 5, 10, 15, 20 dan 25 ml larutan diatas, masukkan kedalam 5 buah labu ukur 100 mL. encerkan hingga 100 ml dengan air suling.
  • Pipet masing-masing larutan sebanyak 2 mL masukkan kedalam 5 buah erlemeyer,erlemeyer ini berturut-turut mengandung 5, 10, 15, 20, dan 25 mg C.
  • Timbang 0,2 gram tanah  (bahan organic sedang) atau 0,1 gram (bahan organic tinggi)
  • Timbang 10 ml larutan 1 N K2Cr2O7 dan 20 ml asam sulfat pekat, goncang hingga tercampur kemudian diamkan selama 30 menit.
  • Setelah 30 menit tambahkan 100 ml larutan 0,5 % BaCl2 sehingga sulfat mengendap menjadi BaSO4.
  • Diamkan satu malam hingga jernih.
  • Lakukan juga untuk larutan standar dan blanko sepeti pekrjaan diatas.
  • Setelah jernih pindahkan larutan kedalam tabung reaksi, kemudian baru masukkan kedalam kuvet dan ukur absobsi pada panjang gelombang 645 nm.
  • Catat absobsi sampel dan standar, untuk larutan standar  dibuatkan kurva kalibrasinya.

Perhitungan :
% C = ( mg C kurva / mg contoh ) x 100%
Persentase bahan organik = 1,72 x C-organik


D.    PENETAPAN KADAR AIR

4.      Penetapan kadar air

a.      Prosedur Kerja

  • Keringkan selama 30 menit cawan pengering kedalam oven pada suhu 105°C
  • Setelah 30 menit, masukkan kedalam desikator selama 45 menit dan timbang
  • Timbang 5 gram tanah dicawan pengering
  • Masukkan kedalam oven pada suhu 105 °C selam 3 menit, pindahkan kedalam desikator.
  • Setelah 45 menit lalu ditimbang.


Perhitungan:
% Kadar air tanah  = ( berat tanah basah – berat tanah kering )/ berat kering tanah x 100%






E.     ANALISIS N-TOTAL

5.      Penetapan Nitrogen total tanah

Senyawa nitrogen organik dapat dioksidasi dalam lingkungan asam sulfat pekat membentuk (NH4)2SO4. amonium sulfat yang terbentuk disuling dengan penambahan NaOH. Selanjutnya NH3 yang dibebaskan diikat oleh asam borak dan dapat dititer dengan H2SO4 dengan menggunakan indikator Conway.

a.      Pembuat Reagen

  1. Asam sulfat pekat
  2. Katalis campuran (campuran selen)
Dicampurkan 1,55 gram CuSO4 anhidrat,96,9 gram Na2SO4 anhidrat, dan 1,55 gram selen bubuk kemudian digerus.
  1. Asam borat 2%
Dilarutkan 5 gram H3BO3 dengan 0.5 liter aquades
  1. NaOH 40%
400 gram NaOH dilarutkan kedalam 1 L aquades
  1. Indikator campuran (petunjuk Conway)
Dilarutkan 0,1 grammerah metal ( methylred) dan 0,150 gran hijau bromkresol (bromecrosol green) kedalam 100 mL ethanol absolute.
  1. Larutan baku asam sulfat 0.05 N







b.      Prosedur Kerja

·         Ditimbang 0,5 gram sampel tanah yang telah digerus, dimasukkan kedalam tabung digest.
·         Distribusi 0,5 gram katalis campuran dan tambahkan 3 mL asam sulfat pekat.
·         Didestruksi hingga 3-4 jam pada suhu 200 °C,setelah sempuran  (keluar asap putih) didinginkan lalu diencerkan dengan 25 mL aquades.
·         Hasil dektruksi pindahkan kedalam labu didih, jadikan 100 mL larutan
·         Ditambah 30 mL NaOH 40%, lalu didestilasi.
·         Untuk menampung destilat disiapkan erlemeyer 100 mL yang berisi 10 mL H3BO3 1% dan ditambah 3 tetes indicator campuran.
·         Destilasi dilakukan sampai warna penampung menjadi hijau dan diperoleh destilat sekitar  50-75 mL.
·         Destilat dititer dengan H2SO4 0,05

Perhitungan : % N = (T2 – T1 x N x 0.014 x100)
                                                Gram sampel

Diman :           T1 = mL H2SO4 yang terpakai untuk titrasi blanko
                        T2 = mL H2SO4 yang terpakai untuk titrasi sampel
                        N  = Normalitas H2SO4

  1. Rasio C/N

Rasio C/N dihitung secara matematis
Rasio C/N = % N-total





F.     ANALISIS FOSFOR TERSEDIA

6.      Analisis fosfor tersedia (metoda Olsen)

Fosfor dalam suasana netral / alkalin dalam tanah akan terikat sebagai Ca,Mg-PO4. pengekstrak NaHCO3 akan mengendapkan Ca,Mg-CO3 sehingga PO4 3- dibebaskan kedalam larutan. Pengekstrak ini juga dapat digunakan untuk tanah asam terikat sebagai Fe. Al-hidroksida, sebagai fosfat dibebaskan.

a.       Pembuatan reagen
                                                      
1.      pengekstrak NaHCO3 0,5 N, pH 8,5
dilarutkan 42,0 gram NaHCO3 dengan aquades encerkan menjadi 1 L, pH larutan ditetapkan menjadi 8,5 dengan penambahan NaOH.
2.      Pereaksi pekat
Dilarutkan 12 gram ammonium molybdate, (NH4)6Mo7O24. 4H2O dengan 100 mL aquades, ditambahkan 0.227 gram K(SbO)C4H4O6. dan secara perlahan tambahkan 140 mL H2SO4 pekat, jadikan 1 L.
3.      pereaksi warna P
campuran 1,06 gram asam absorbat dan 100 mL pereaksi P pekat kemudian jadikan 1L (tambahkan 25 mL H2SO4 N sebelum diencerkan)
4.      Larutan induk P 500 ppm
Dilarutkan 2,1954 gram KH2PO4 (keringkan pada suhu 40 °C) dengan aquades, encerkan menjadi 1L
5.      Larutan standar (0,5; 1,0; 2,0; 4,0; 8,0)






b.      Prosedur kerja

Ditimbang 1,0 gram sampel tanah masukkan kedalam Erlenmeyer, ditambah 20 mL pengekstrak olsen kemudian dikocok selama 30 menit. Disaring dengan kertas whatman 42 dan bila larutan keruh kembali. Ekstrak dipipet 2 mL kedalam tabung reaksi dan selanjutnya bersama deren standar ditambah 10 mL pereaksi pewarna  P kocok hingga homogen dan biarkan selama 30 menit. Absobsi larutan diukur dengan Spektrofotometer pada panjang gelombang 693 nm.

Perhitungan : konsentrasi fosfor dihitung dengan menggunakan regresi liner dari larutan standar.

Kadar P tersedia (ppm) = ( konsentrasi terukur x mL ekstrak )/ g contoh. 

Prosedur kerja:

1.      Pipet sampel yang diekstrak sebanyak 10 ml,masukkan kedalam labu ukur 50 ml
2.      Tambah 10 ml reagen pereaksi pewarna fosfor
3.      Enceran sampai tanda batas, lalu di aduk.
4.      Diamkan selama 10 menit, setelah 10 menit ujur absobsinya pada panjang gelombang 660 miro meter.
5.      Untuk larutan standar sama pekerjaan dari M­­o 1-4.









  1. HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil dari praktikum dasar-dasar ilmu tanah adalah sebagai berikut:

1.      Analisis kimia tanah
pH tanah Aluvial adalah 5,23
2.      Analisis Al dd dan H dd

H dd / 100 gram    = ( mL NaOH x N NaOH) – ( kandungan Al x N HCL) x 40
                              = ( 1,9 x 0,1 ) x 40
                              = 7,6
Konstanta 40 berasal dari = (50 mL / 25 mL) x (100 gram / 5 gram)
                                          = 2 mL x 20 gram
                                          = 40
7,6 x 2,1 = 15,96
      Jadi, tanah Aluvial yang mempunyai kandungan pH 5,23 dibutuhkan pengapuran sebanyak 15,96 ton/Ha.

3.      Analisis N-total

N   = T2 – T1 x N x 0,014 x 100
                  Gram sampel
N   = ( 6,4 – 3 ) x 0,05 x 0,014 x 100
                              0,5551
N   = 0,428
                                    Jadi, kandungan N pada tanah Aluvial adalah 0,428

4.      Analisis C-organik

B = 0,008
A = 0,0014
Spektro = 0,402 Abs
Sampel tanah = 203 Mg

                        % C     = (Mg C kurva / Mg contoh ) x 100 %
                                    = 50,08 / 203 x 100
                                    = 24,67 %                   
                       
                        % Bahan organic         = 1,72 x 24,67
                                                            = 42,43 %
            Konstanta (Mg C )      = ( Abs Y – A / B )
                                                = ( 0,402 – 0,0014 / 0,008 )
                                                = 0,227
Jadi, analisis C-organik adalah  0,227
           
5.      Penetapan kadar air

Berat basah tanah + berat breaker kering  = 5,0734 + 94,4308
                                                                  = 99,5042

= 99,5042 – berat kering terakhir
= 99,5042 – 97,9307
= 1,5735

      Kandungan air tanah   = Berat basah tanah – Berat kering tanah
Berat kering tanah
                                                =  99,5042 – 3,4999
3,4999
                                                = 27,43 %


6.      Analisis Fosfor tersedia

Ppm                       = 2,19
Berat tanah            = 1,0081 gram
Ekstrak olsen                     = 20 mL
X ppm                   = Abs Y – A / B = 2,19
A                           = 0,002
B                           = 0,013

                  Abs Y              = 0,026 – 0,02
                                                      0,013
                                          = 0,026 – 1,53
                                          = 1,512
Mg / Kg     = 2,19 x ekstrak olsen (20)     
                  Kandungan fosfor berat tanah
                  = 2,19 x 20
                              1,008
                        = 43,46


7.      Menentukan 0,1 N HCL untuk membuat larutan stok 500 mL. (0,5 L) BE HCL = H = 1x1, Cl = 1x 35,46 = 35,46.
Jumlah massa atom
BE             = 1 x 35,46      = 35,46
Il                = 1,17

% H2SO4              = 37 %

0,1 N                     =        V x N BE
                                 10 x (massa jenis ) x %

0,1 N                     = 0,5 x 0,1 x 35,46                             
                                  10 x 1,17 x37
0,1 N                     = 1,823 / 432,9
                              = 0,00421

Diubah ke mL       = 0,00421 x 1000 mL = 4,2 mL HCL + Aquades
                                          495,8               = 500 mL

8.      Menentukan 4 % NAF
NAF 4 %   = 4 / 100 x 100 mL Aquades
                  = 4





















  1. DAFTAR PUSTAKA




Mohr, E.C.J., 1933. De Bodem der Tropen in het Algemeen, en die van Nederlandsch-Indie in het Bijzonder. (Tanah-tanah di Daerah Tropis, dengan rujukan khusus di Hindia Belanda)
Mohr, E.J.C., van Baren, F.A. and van Schuylenborgh, J., 1972. Tropical soils: a comprehensive study of their genesis. 3rd edition. Mouton – Ichtiar Baru – van Hoeve, Den Haag













Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pengikut